Minggu, 06 September 2015

Kartini dan Angka Kematian Ibu



Kartini dan Angka Kematian Ibu
Oleh: Nurasiah Jamil*

RADEN AJENG KARTINI, seorang wanita pejuang emansipasi perempuan kandas saat masa nifas (masa setelah bersalin). Kematiannya menambah daftar panjang angka kematian ibu pada 1904. Kala itu, Nusantara masih di landa zaman kegelapan. Pengetahuan masih sempit. Manusia didera buta aksara dan teknologi persalinan masih jauh dari jangkauan.
Namun, seabad-sedekade sesudahnya, ketika teknologi persalinan begitu mewahnya, angka kematian ibu rupanya masih juga membengkak. Kemajuan zaman, kecanggihan teknologi, hebatnya pengetahuan ternyata tidak berbanding lurus dengan penyusutan angka kematian ibu.
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2012) mencatat angka kematian itu kian mengerikan. Tak tanggung-tanggung, tercatat 359 ibu meninggal per 100.000 kelahiran hidup. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkirakan, 98 persen penyebab kematian ibu dapat dicegah. Lantas, kenapa masih banyak ibu yang meregang nyawa saat/atau usai bersalin?
Ada dua biang kematian ibu yang mungkin bisa kita tuding, yakni 4 Terlalu dan 3 Terlambat. Umumnya yang “terlalu” dan “terlambat” sangat tidak mengenakkan dan berefek buruk. Kategori terlalu yang beresiko pada kematian ibu adalah usia terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak antar kehamilan, dan terlalu banyak anak.
Poin pertama, usia yang terlalu muda untuk hamil. Ketika seorang wanita masih remaja, kemungkinan besar rahimnya belum siap untuk hamil sehingga ketika ia mengandung jabang bayi mengakibatkan saluran kelahiran rentan pecah. Tentu ini berefek pada kematian ibu saat bersalin.
Sensus Penduduk 2010 menggambarkan, sekitar 2,1 persen dari total penduduk berusia di atas 10 tahun ternyata wanita yang sudah menikah pada usia di bawah 19 tahun. Padahal di usia tersebut adalah masa pematangan organ-organ reproduksi. Di usia itu pula amat tepat untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Terlalu yang kedua adalah terlalu sering bereproduksi berkali-kali. Sehingga, alat reproduksi mudah terkena masalah dan rentan saat melakukan persalinan. Tingginya intensitas bereproduksi secara biologis berbahaya juga terhadap kesehatan ibu dan bayi. Karena itu, tingkat reproduksi juga perlu diperhatian dengan seksama.
Selain kehamilan di usia dini, dan terlalu sering bereproduksi, faktor lain yang beresiko tinggi terhadap kematian ibu hamil adalah jarak kehamilan pertama dengan kehamilan kedua terlalu dekat. Pendeknya jarak antar kehamilan rentan menyebabkan rahim ibu terkena masalah. Karena ketika seorang ibu baru melahirkan, dan dalam jangka waktu yang tidak lama, ia kembali hamil dan melahirkan, hal itu menjadi beban teramat berat bagi si ibu. Celakanya, ada fakta bahwa sebagian lelaki melarang isterinya memakai alat kontrasepsi sebagai penjaga jarak kehamilan, sehingga kehamilan kerap terjadi di luar perkiraan mereka.
Faktor lainnya adalah ketuaan. Baik kemudaan maupun ketuaan punya dampak buruk terhadap persalinan. Jika seorang wanita usia tua (40 tahun ke atas) hamil, ia beresiko tinggi terhadap kematian saat bersalin (baik terhadap bayinya maupun ibu itu sendiri). Sebabnya, wanita usia di atas 40 tahun memiliki rahim yang tidak fleksibel lagi.
Biang kedua, keterlambatan. Keterlambatan juga merupakan salah satu faktor yang berperan dalam kematian ibu. Ada tiga keterlambatan yang berbahaya. Pertama terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan, persalinan  dan mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapatkan pertolongan. Poin satu inilah yang diduga kuat terjadi pada RA Kartini. Ia telat ditangani usai bersalin karena kelamaan menunggu keputusan rembuk pihak laki-laki.
Faktor lainnya, terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi. Keterlambatan sampai ke tempat rujuan juga berdampak pada keterlambatan untuk mendapatkan penanganan. Bisa juga terlambat ditangani karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia.
Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukan bahwa cakupan program kesehatan ibu dan reproduksi umumnya rendah pada ibu-ibu di pedesaan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah. (sepasti kondisi di Nias). Secara umum, posisi perempuan juga masih relatif kurang menguntungkan sebagai pengambil keputusan dalam mencari pertolongan untuk dirinya sendiri dan anaknya. Ada budaya dan kepercayaan di daerah tertentu yang tidak mendukung kesehatan Ibu.
Dominasi Kaum Adam
Biarpun 4 Terlalu dan 3 Terlambat ini dituding sebagai biang keladi kematian ibu, tetapi grand desainnya terkait erat dengan peran laki-laki. Laki-laki yang masih mendominasi mengakibatkan wanita kian terpojok. Sejumlah fakta di daerah yang menganut sistem patriarkhi menunjukkan angka kematian ibu yang tinggi. Sebabnya jelas, laki-laki mendapatkan prioritas tertinggi dalam akses terhadap makanan bergizi, pendidikan tinggi dan kesehatan bermutu. Sedangkan perempuan hanya mendapat remah-remahnya: makanan tidak bergizi, hanya tinggal di rumah, pendidikannya tidak dipentingkan, dan mereka diberi tugas utama: melahirkan banyak anak.
Empat terlalu dan tiga terlambat adalah bukti dominasi lelaki masih saja terpelihara kuat hingga kini. Empat terlalu dan tiga terlambat harus kita hela dengan kemandirian berpikir. Kemandirian berpikir harus dirasakan oleh kaum hawa. Kemandirian berpikir, sebagaimana juga telah diperjuangkan Kartini, harus diwujudkan dengan memberi akses pendidikan bermutu kepada kaum perempuan. Juga akses kesehatan yang sama pentingnya.
Seabad sedekade, mestinya kenangan akan Kartini menjadi pelecut bagi bangsa ini agar peduli pada pendidikan dan kesehatan wanita. Kepedulian harus ditingkatkan pada kesehatan ibu-ibu yang melahirkan. Karena segala yang diperjuangkan Kartini tak lain dan tak bukan adalah pendidikan dan kesehatan sebagai suatu prioritas bagi perempuan, seproritas bagi kaum Adam. Bahwa kematian ibu kali ini sungguhlah tamparan telak di wajah bangsa, kala kita mengenang Kartini. 


*Nurasiah Jamil  sedang mengenyam pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pernah menjadi manajer program untuk penangangan anak-anak korban terdampak erupsi Sinabung di Karo (2014) dalam organisasi KerLip. Kini ia bergiat di Komunitas Rumah Cita Kita yang mendorong Pemuda dalam Gerakan Promosi Kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar