Kartini
dan Angka Kematian Ibu
Oleh: Nurasiah Jamil*
RADEN AJENG KARTINI, seorang wanita pejuang emansipasi
perempuan kandas saat masa nifas (masa setelah bersalin). Kematiannya menambah
daftar panjang angka kematian ibu pada 1904. Kala itu, Nusantara masih di landa
zaman kegelapan. Pengetahuan masih sempit. Manusia didera buta aksara dan
teknologi persalinan masih jauh dari jangkauan.
Namun,
seabad-sedekade sesudahnya, ketika teknologi persalinan begitu mewahnya, angka
kematian ibu rupanya masih juga membengkak. Kemajuan zaman, kecanggihan
teknologi, hebatnya pengetahuan ternyata tidak berbanding lurus dengan
penyusutan angka kematian ibu.
Survey
Demografi Kesehatan Indonesia (2012) mencatat angka kematian itu kian
mengerikan. Tak tanggung-tanggung, tercatat 359 ibu meninggal per 100.000
kelahiran hidup. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkirakan, 98
persen penyebab kematian ibu dapat dicegah. Lantas, kenapa masih banyak ibu yang
meregang nyawa saat/atau usai bersalin?
Ada
dua biang kematian ibu yang mungkin bisa kita tuding, yakni 4 Terlalu dan 3 Terlambat.
Umumnya yang “terlalu” dan “terlambat” sangat tidak mengenakkan dan berefek
buruk. Kategori terlalu yang beresiko pada kematian ibu adalah usia terlalu muda,
terlalu tua, terlalu dekat jarak antar kehamilan, dan terlalu banyak anak.
Poin
pertama, usia yang terlalu muda untuk hamil. Ketika seorang wanita masih remaja,
kemungkinan besar rahimnya belum siap untuk hamil sehingga ketika ia mengandung
jabang bayi mengakibatkan saluran kelahiran rentan pecah. Tentu ini berefek
pada kematian ibu saat bersalin.
Sensus Penduduk 2010 menggambarkan, sekitar 2,1 persen dari total
penduduk berusia di atas 10 tahun ternyata wanita yang sudah menikah pada usia
di bawah 19 tahun. Padahal di usia tersebut adalah masa pematangan organ-organ
reproduksi. Di usia itu pula amat tepat untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Terlalu
yang kedua adalah terlalu sering bereproduksi berkali-kali. Sehingga, alat
reproduksi mudah terkena masalah dan rentan saat melakukan persalinan. Tingginya intensitas bereproduksi secara biologis
berbahaya juga terhadap kesehatan ibu dan bayi. Karena itu, tingkat reproduksi
juga perlu diperhatian dengan seksama.
Selain
kehamilan di usia dini, dan terlalu sering bereproduksi, faktor lain yang
beresiko tinggi terhadap kematian ibu hamil adalah jarak kehamilan pertama
dengan kehamilan kedua terlalu dekat. Pendeknya jarak antar kehamilan rentan menyebabkan
rahim ibu terkena masalah. Karena ketika seorang ibu baru melahirkan, dan dalam
jangka waktu yang tidak lama, ia kembali hamil dan melahirkan, hal itu menjadi
beban teramat berat bagi si ibu. Celakanya, ada fakta bahwa sebagian lelaki
melarang isterinya memakai alat kontrasepsi sebagai penjaga jarak kehamilan,
sehingga kehamilan kerap terjadi di luar perkiraan mereka.
Faktor
lainnya adalah ketuaan. Baik kemudaan maupun ketuaan punya dampak buruk
terhadap persalinan. Jika seorang wanita usia tua (40 tahun ke atas) hamil, ia
beresiko tinggi terhadap kematian saat bersalin (baik terhadap bayinya maupun
ibu itu sendiri). Sebabnya, wanita usia di atas 40 tahun memiliki rahim yang
tidak fleksibel lagi.
Biang
kedua, keterlambatan. Keterlambatan juga merupakan salah satu faktor yang
berperan dalam kematian ibu. Ada tiga keterlambatan yang berbahaya. Pertama
terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan, persalinan dan mengambil keputusan, sehingga terlambat
untuk mendapatkan pertolongan. Poin satu inilah yang diduga kuat terjadi pada
RA Kartini. Ia telat ditangani usai bersalin karena kelamaan menunggu keputusan
rembuk pihak laki-laki.
Faktor
lainnya, terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi. Keterlambatan
sampai ke tempat rujuan juga berdampak pada keterlambatan untuk mendapatkan
penanganan. Bisa juga terlambat ditangani karena terbatasnya sarana dan sumber
daya manusia.
Hasil
Riset Kesehatan Dasar menunjukan bahwa cakupan program kesehatan ibu dan
reproduksi umumnya rendah pada ibu-ibu di pedesaan dengan tingkat pendidikan
dan ekonomi yang rendah. (sepasti kondisi di Nias). Secara umum, posisi
perempuan juga masih relatif kurang menguntungkan sebagai pengambil keputusan
dalam mencari pertolongan untuk dirinya sendiri dan anaknya. Ada budaya dan
kepercayaan di daerah tertentu yang tidak mendukung kesehatan Ibu.
Dominasi Kaum Adam
Biarpun
4 Terlalu dan 3 Terlambat ini dituding sebagai biang keladi kematian ibu,
tetapi grand desainnya terkait erat dengan peran laki-laki. Laki-laki yang
masih mendominasi mengakibatkan wanita kian terpojok. Sejumlah fakta di daerah
yang menganut sistem patriarkhi menunjukkan angka kematian ibu yang tinggi.
Sebabnya jelas, laki-laki mendapatkan prioritas tertinggi dalam akses terhadap
makanan bergizi, pendidikan tinggi dan kesehatan bermutu. Sedangkan perempuan hanya
mendapat remah-remahnya: makanan tidak bergizi, hanya tinggal di rumah, pendidikannya
tidak dipentingkan, dan mereka diberi tugas utama: melahirkan banyak anak.
Empat
terlalu dan tiga terlambat adalah bukti dominasi lelaki masih saja terpelihara
kuat hingga kini. Empat terlalu dan tiga terlambat harus kita hela dengan
kemandirian berpikir. Kemandirian berpikir harus dirasakan oleh kaum hawa.
Kemandirian berpikir, sebagaimana juga telah diperjuangkan Kartini, harus
diwujudkan dengan memberi akses pendidikan bermutu kepada kaum perempuan. Juga
akses kesehatan yang sama pentingnya.
Seabad sedekade, mestinya kenangan akan Kartini
menjadi pelecut bagi bangsa ini agar peduli pada pendidikan dan kesehatan
wanita. Kepedulian harus ditingkatkan pada kesehatan ibu-ibu yang melahirkan.
Karena segala yang diperjuangkan Kartini tak lain dan tak bukan adalah
pendidikan dan kesehatan sebagai suatu prioritas bagi perempuan, seproritas
bagi kaum Adam. Bahwa kematian ibu kali ini sungguhlah tamparan telak di wajah
bangsa, kala kita mengenang Kartini.
*Nurasiah Jamil sedang mengenyam pendidikan di Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia. Pernah menjadi manajer program untuk
penangangan anak-anak korban terdampak erupsi Sinabung di Karo (2014) dalam
organisasi KerLip. Kini ia bergiat di Komunitas Rumah Cita Kita yang mendorong
Pemuda dalam Gerakan Promosi Kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar