Minggu, 06 September 2015

Kanker Payudara "Saya Lelaki Gak Malu SADARI!"



Kanker Payudara
"Saya Lelaki Gak Malu SADARI!"
Oleh: Nurasiah Jamil*
Di depan para eyang, jantung saya deg-degan. Saya merasa sangat tidak layak menggurui mereka. Justru, merekalah sepantasnya mengajari saya. Tetapi, saya tak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini.
Saya diminta mewakili teman-teman dari Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Kampus UI untuk menjadi narasumber tentang masalah kesehatan kepada para lanjut usia (lansia) di sebuah panti jompo, akhir November lalu. Saya nyaris mundur karena yang saya hadapi bukan orang muda, tetapi para orang tua yang sangat saya kagumi. Apalagi ketika wakil ketua yayasan menginformasikan bahwa para eyang di sini merupakan orang-orang hebat di masa mudanya, hal ini membuat pikiran saya tak karuan.
Saya tahu betul, membahas masalah kesehatan reproduksi selalu menjadi bahasan hangat di segala jenjang usia, termasuk di kalangan eyang-eyang. Ya, itulah mengapa saya memilih jurusan ini, karena kesehatan reproduksi ada di seluruh siklus kehidupan manusia, mulai lahir sampai lansia.
Tetapi, kali ini saya harus berbagi pengetahuan kepada orang yang sangat saya hormati. Bahkan, biar bagaimana pun, pengalaman hidup mereka jauh berlipat-lipat di atas saya. Di sinilah sulitnya. Dan kesulitan itu harus saya hadapi.
Sebelumnya, saya sudah cari bocoran informasi tentang perubahan-perubahan organ dan sistem reproduksi para eyang tersebut, lewat mengobrol dan riset kecil-kecilan. Informasi yang saya kumpulkan itulah menjadi bahan pertimbangan saya untuk menyiapkan materi.
Tibalah sesi yang ditunggu-tunggu. Saat sesi tanya jawab, eyang kakung yang duduk di kursi paling belakang berdiri sambil mengacungkan tangan. Saya senang. Saya sambut pertanyaannya.
Pak Yono, nama bapak itu. Ia mantan tentara dengan segudang pengalaman. Dan kini, ia  salah satu penghuni panti.
"Mohon maaf sebelumnya," katanya memulai pertanyaan, "Saya mau tanya, dulu pernah ada benjolan di dada saya. Lalu saya periksa ke dokter. Dilakukanlah biopsi, namun hasilnya negatif kanker, pertanyaan saya: Apakah kanker payudara dapat menyerang laki-laki?”
Pertanyaan Pak Yono sekaligus pertanyaan terakhir penutup sesi tanya-jawab. Para eyang bertepuk tangan menyambut pertanyaan itu. Lalu dengan riang hati, saya mengapresiasi pertanyaan Pak Yono. Saya jawab, "Betul. Kanker payudara dapat juga terjadi pada laki-laki”
Ini sedikit informasi yang bisa disampaikan, tak perlu takut khususnya untuk bapak-bapak yang akan menjelang eyang. Ini informasi yang semoga bisa menjadi alarm agar kita selalu peduli dengan kesehatan diri kita.
Kanker payudara adalah salah satu penyebab kematian utama pada perempuan. Tidak banyak yang mengetahui, bahwa pria juga sama terancamnya. Menurut prediksi WHO 20 persen pria akan menderita kanker sebelum umur 75 tahun di tahun 2030, dan 16 persen akan meninggal karena penyakit tersebut, rasio kejadian saat ini adalah 100 banding satu."
Resiko pria menjadi pasien kanker payudara bertambah sejalan dengan usia. Tapi ini tidak berarti lelaki muda bebas dari resiko. Menurut penelitian di Jerman dan Amerika Serikat, memang belum diketahui sebab pastinya. Tapi yang pasti, terasa ada gejala berupa benjolan di sekitar payudara pria.
Gejala paling umum dari kanker payudara pria adalah terdapat benjolan atau pembengkakan di belakang puting tanpa rasa sakit. Gejala-gejala lainnya adalah ada cairan yang keluar dari puting atau benjolan atau pembengkakan di ketiak. Mengingatkan kembali kepada dasar dari perubahan fisik lansia bahwa terjadinya penurunan fungsi organ terutama hormon sehingga menjadi pemicu besar terjadinya kanker payudara tersebut.
Dari pertanyaan Pak Yono itu, tak ayal, saya bahas tentang SADARI yaitu perikSA payuDAra sendiRI, sembari sedikit memperagakannya, cara terbaik melakukan SADARI yaitu, pertama, periksa payudara saat mandi.
Kedua, lakukan pemeriksaan payudara di depan cermin dengan lengan diangkat ke atas atau posisi berkaca, lalu periksa apakah bengkak, kemerahan, atau ada perubahan di kedua payudara. Kemudian, tekan perlahan payudara untuk mencari benjolan, dimulai dari melingkar keluar. Berikutnya, berbaring dan ulangi pemeriksaan. Jangan lupa gantian sebelah kiri dan kanan ya.
Jika ada benjolan, pemeriksakan ke dokter terdekat, untuk mendapatkan pemeriksaan seperti yang Pak Yono lakukan. Oleh dokter mungkin akan di-Biopsi (pengambilan jaringan tubuh di lokasi sakit untuk pemeriksaan laboratorium).
Pak Yono mengacungkan tangannya lagi. Dengan sigap mikropon disodorkan dan ia menambahkan. "Saya tidak malu mengatakan ini di depan semuanya, bahwa saya juga melakukan SADARI yaitu perikSA DAda sendiRI”. Mendengar pengakuan terjujur Pak Yono, semuanya bertepuk tangan.
Dari pengalaman bertemu para eyang itu, saya juga belajar satu kosa-kata baru: SADARI versi Pak Yono. Saya sepakat pada Pak Yono, SADARI itu penting untuk mencegah kanker. Mengenal secara dini lebih baik. Ayo, para laki-laki mulai hari ini lakukan SADARI sepasti Pak Yono menyadarinya.
Hal ini dipertegas oleh pertanyaan eyang puteri, yang menanyakan “Apakah benar kalau kanker payudara ini diturunkan? Lalu apa pencegahannya?” Betul. Kanker payudara penyakit menurun. Jika ada anggota keluarga mempunyai riwayat kanker, kemungkinan terjadi kanker ke keturunannya lebih besar daripada yang tidak berketurunan. Lalu upaya pencegahan apa yang bisa dilakukan?
Ya, SADARI dan pemeriksa rutin sebelum terjadi lebih parah. Khususnya pada pria, gejala yang muncul itu kalau stadiumnya sudah tinggi. Jadi cegah sejak dini. Mencegah lebih baik dan lebih murah daripada mengobati bukan? Yuk, kita lakukan SADARI sekarang untuk mencegah terjadinya kanker payudara. 

*Penulis, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Aktif di Komunitas Rumah Cita Kita (RCK) yang berfokus pada gerakan peningkatan mutu kesehatan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar