Kanker
Payudara
"Saya Lelaki Gak Malu SADARI!"
"Saya Lelaki Gak Malu SADARI!"
Oleh:
Nurasiah Jamil*
Di depan para eyang, jantung saya deg-degan. Saya
merasa sangat tidak layak menggurui mereka. Justru, merekalah sepantasnya
mengajari saya. Tetapi, saya tak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini.
Saya diminta mewakili teman-teman dari Kesehatan
Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Kampus UI untuk menjadi narasumber
tentang masalah kesehatan kepada para lanjut usia (lansia) di sebuah panti
jompo, akhir November lalu. Saya nyaris mundur karena yang saya hadapi bukan
orang muda, tetapi para orang tua yang sangat saya kagumi. Apalagi ketika wakil
ketua yayasan menginformasikan bahwa para eyang di sini merupakan orang-orang
hebat di masa mudanya, hal ini membuat pikiran saya tak karuan.
Saya tahu betul, membahas masalah kesehatan
reproduksi selalu menjadi bahasan hangat di segala jenjang usia, termasuk di
kalangan eyang-eyang. Ya, itulah mengapa saya memilih jurusan ini, karena
kesehatan reproduksi ada di seluruh siklus kehidupan manusia, mulai lahir
sampai lansia.
Tetapi, kali ini saya harus berbagi pengetahuan
kepada orang yang sangat saya hormati. Bahkan, biar bagaimana pun, pengalaman
hidup mereka jauh berlipat-lipat di atas saya. Di sinilah sulitnya. Dan
kesulitan itu harus saya hadapi.
Sebelumnya, saya sudah cari bocoran informasi
tentang perubahan-perubahan organ dan sistem reproduksi para eyang tersebut,
lewat mengobrol dan riset kecil-kecilan. Informasi yang saya kumpulkan itulah
menjadi bahan pertimbangan saya untuk menyiapkan materi.
Tibalah sesi yang ditunggu-tunggu. Saat sesi
tanya jawab, eyang kakung yang duduk di kursi paling belakang berdiri sambil
mengacungkan tangan. Saya senang. Saya sambut pertanyaannya.
Pak Yono, nama bapak itu. Ia mantan tentara dengan segudang pengalaman. Dan kini, ia salah satu penghuni panti.
Pak Yono, nama bapak itu. Ia mantan tentara dengan segudang pengalaman. Dan kini, ia salah satu penghuni panti.
"Mohon maaf sebelumnya," katanya
memulai pertanyaan, "Saya mau tanya, dulu pernah ada benjolan di dada
saya. Lalu saya periksa ke dokter. Dilakukanlah biopsi, namun hasilnya negatif
kanker, pertanyaan saya: Apakah kanker payudara dapat menyerang laki-laki?”
Pertanyaan Pak Yono sekaligus pertanyaan terakhir
penutup sesi tanya-jawab. Para eyang bertepuk tangan menyambut pertanyaan itu.
Lalu dengan riang hati, saya mengapresiasi pertanyaan Pak Yono. Saya jawab,
"Betul. Kanker payudara dapat juga terjadi pada laki-laki”
Ini sedikit informasi yang bisa disampaikan, tak
perlu takut khususnya untuk bapak-bapak yang akan menjelang eyang. Ini
informasi yang semoga bisa menjadi alarm agar kita selalu peduli dengan kesehatan
diri kita.
Kanker payudara adalah salah satu penyebab
kematian utama pada perempuan. Tidak banyak yang mengetahui, bahwa pria juga
sama terancamnya. Menurut prediksi WHO 20 persen pria akan menderita kanker
sebelum umur 75 tahun di tahun 2030, dan 16 persen akan meninggal karena
penyakit tersebut, rasio kejadian saat ini adalah 100 banding satu."
Resiko pria menjadi pasien kanker payudara
bertambah sejalan dengan usia. Tapi ini tidak berarti lelaki muda bebas dari
resiko. Menurut penelitian di Jerman dan Amerika Serikat, memang belum
diketahui sebab pastinya. Tapi yang pasti, terasa ada gejala berupa benjolan di
sekitar payudara pria.
Gejala paling umum dari kanker payudara pria
adalah terdapat benjolan atau pembengkakan di belakang puting tanpa rasa sakit.
Gejala-gejala lainnya adalah ada cairan yang keluar dari puting atau benjolan
atau pembengkakan di ketiak. Mengingatkan kembali kepada dasar dari perubahan
fisik lansia bahwa terjadinya penurunan fungsi organ terutama hormon sehingga
menjadi pemicu besar terjadinya kanker payudara tersebut.
Dari pertanyaan Pak Yono itu, tak ayal, saya
bahas tentang SADARI yaitu perikSA payuDAra sendiRI, sembari sedikit
memperagakannya, cara terbaik melakukan SADARI yaitu, pertama, periksa payudara
saat mandi.
Kedua, lakukan pemeriksaan payudara di depan
cermin dengan lengan diangkat ke atas atau posisi berkaca, lalu periksa apakah
bengkak, kemerahan, atau ada perubahan di kedua payudara. Kemudian, tekan
perlahan payudara untuk mencari benjolan, dimulai dari melingkar keluar.
Berikutnya, berbaring dan ulangi pemeriksaan. Jangan lupa gantian sebelah kiri
dan kanan ya.
Jika ada benjolan, pemeriksakan ke dokter
terdekat, untuk mendapatkan pemeriksaan seperti yang Pak Yono lakukan. Oleh
dokter mungkin akan di-Biopsi (pengambilan jaringan tubuh di lokasi sakit untuk
pemeriksaan laboratorium).
Pak Yono mengacungkan tangannya lagi. Dengan
sigap mikropon disodorkan dan ia menambahkan. "Saya tidak malu mengatakan
ini di depan semuanya, bahwa saya juga melakukan SADARI yaitu perikSA DAda
sendiRI”. Mendengar pengakuan terjujur Pak Yono, semuanya bertepuk tangan.
Dari pengalaman bertemu para eyang itu, saya juga
belajar satu kosa-kata baru: SADARI versi Pak Yono. Saya sepakat pada Pak Yono,
SADARI itu penting untuk mencegah kanker. Mengenal secara dini lebih baik. Ayo,
para laki-laki mulai hari ini lakukan SADARI sepasti Pak Yono menyadarinya.
Hal ini dipertegas oleh pertanyaan eyang puteri,
yang menanyakan “Apakah benar kalau kanker payudara ini diturunkan? Lalu apa
pencegahannya?” Betul. Kanker payudara penyakit menurun. Jika ada anggota
keluarga mempunyai riwayat kanker, kemungkinan terjadi kanker ke keturunannya
lebih besar daripada yang tidak berketurunan. Lalu upaya pencegahan apa yang
bisa dilakukan?
Ya, SADARI dan pemeriksa rutin sebelum terjadi
lebih parah. Khususnya pada pria, gejala yang muncul itu kalau stadiumnya sudah
tinggi. Jadi cegah sejak dini. Mencegah lebih baik dan lebih murah daripada
mengobati bukan? Yuk, kita lakukan SADARI sekarang untuk mencegah terjadinya
kanker payudara.
*Penulis, mahasiswa Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia. Aktif di Komunitas Rumah Cita Kita (RCK)
yang berfokus pada gerakan peningkatan mutu kesehatan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar